Niwatori (/niwɑθorɪə/: a Japanese word for chicken), is a twenty something web designer and programmer who lives in Bandung, Indonesia.
When ASP untuk Orang Awam Comes True
Setelah beberapa hari asyik masyuk dengan Writely.com (yang akhirnya akhir Agustus ini dibuka lagi untuk publik sejak diakuisisi oleh Google), mengekplorasi berbagai fitur dan melakukan banyak aktifitas word processing hanya bermodalkan browser dengan obyek file dokumen yang beragam dari kerjaan kantor, tutorial/modul, hingga ketikan-ketikan ngga jelas, tadi pagi akhirnya menyempatkan diri mencoba Google Spreadsheet. Prinsip kerja dua aplikasi perkantoran online berbasis web dari Google ini …
Prinsip kerja dua aplikasi perkantoran berbasis web dari Google ini hampir sama, hanya saja setelah mencoba mengupload dan mengolah beberapa spreadsheet laporan kerja bulanan yang berukuran (relatif) sedang unjuk kerjanya terkadang masih agak lambat. Keterbatasan penampilan banyak work-area dan grid di browser tetap susah diatasi bahkan dengan AJAX sekalipun, plus support ragam browser yang didukung pun masih terbatas. Tapi untuk single dan simple spreadsheet, aplikasi ini sudah sangat OK (with big O).
Tapi yang menarik di sini adalah konsep ASP (application service provider) yang 1 dekade lalu terdengar terlalu eksklusif kini sudah menjadi santapan sehari-hari. Masih teringat di akhir 1998 dulu membaca sebuah artikel soal masa depan ASP dan internet di salah satu majalah komputer lokal, dulu rasanya agak pesimistis membacanya… “jaman susah dial-up begini kok sok-sokan broadband”. Lagipula waktu itu wacananya lebih banyak ke thin client atau alternatif lainnya si software didownload dulu secara cepat sebelum digunakan. Di bagian lain artikel tersebut Bill Gates malah ternyata ikut bicara juga soal software on demand, agak ironis mengingat justru sekarang jajaran software Office milik Bill Gates lah (yang masih konvensional, berupa paket instalasi) yang mulai terancam oleh konsep aplikasi online dari Google dkk. Tidak heran kalau di akhir 2005 oom Gates sampai mengeluarkan memo pesimis yang menyatakan “Kita ketinggalan perahu SaaS”, ya.. sekarang istilahnya adalah SaaS (Software as a Service).
Dulu istilah ASP mungkin lebih dekat dengan model client-server, kalaupun ada HTML itu hanya sekedar salah satu frontend, orientasinya lebih ke kalangan bisnis atau corporate. Tapi kini SaaS umumnya dikonsentrasikan untuk format web jadi benar-benar dilahirkan untuk bersanding dengan browser. Di sinilah letak kekuatannya, mudah digunakan oleh siapa saja (orang awam sudah terbiasa browsing), mudah digunakan dimana saja, bentuk kepemilikan yang mudah (kalaupun ada cost itu bukan untuk membeli tapi fee sewa layanan… yang tentu saja umumnya lebih ekonomis), lebih open dan extensible dalam artian bisa terhubung dengan layanan web lain (saling melengkapi via API atau webservices, dan akhirnya muncul terminologi meshup applications berbarengan dengan teknologi kolaborasi dan interaktif khas web 2.0 lainnya).
Bahkan kini bagi pengguna yang tidak mau repot mengetikan banyak URL atau membuka banyak tab/window browser saat mengakses banyak aplikasi online, mulai hadir konsep online desktop semacam : YouOS, eyeOS, Robin dll. yang akan lebih merangkul pengguna awam dimana berbagai macam RIA disatukan dalam satu login dan dengan mudah dipakai karena mirip lingkungan aplikasi desktop sehari-hari. Intinya, shifting target pemakai SaaS ke kalangan awam agaknya justru mempercepat perkembangan RIA (Rich Internet Application) yang menjadi landasan di bidang ini, baik dari sisi teknis maupun sisi social engineering. Nampaknya beberapa tahun ke depan wajah kita akan semakin lebih lama lagi bertatapan dengan layar browser _
About this entry
Sections: Cyber Chicken,
Sorry, comments are closed for this article.
