Niwatori (/niwɑθorɪə/: a Japanese word for chicken), is a twenty something web designer and programmer who lives in Bandung, Indonesia.
Sudo dan Text Editor
Dari diskusi panas di Ubuntu forum soal “Sudo is crap. i am adding a root user” : Di masa awal-awal menggunakan Ubuntu (5.04 Hoary) gue mengalami masalah “sudo phobia” yang sama dengan topik di atas. Buntut-buntutnya gue selalu kekeuh membuat account root dan login sebagai root, seiring berjalannya waktu dan jam terbang Ubuntu tentu saja sekarang gue mulai “melek sudo” . Singkatnya sih coba dulu dan biasakan, lama kelamaan baru terasa lebih aman dan lebih rapih, kalau sudah kepepet pada kasus tertentu ya baru deh di “sudo -i”.
Selain itu di diskusi tersebut terlontar pula statement “cemen ah kok di sample-sample Ubuntu text editornya pake GUI? pake vi dong, hardcore!”. Lagu lama sih sebenarnya, ngga keren kalo ngga pake vi katanya. Secara pribadi gue nyatakan penguasaan vi itu wajib, secara vi sangat powerful dan ada dimana-mana.
Tapi kalau untuk mengenalkan
Linux ya tidak aneh jika sample yang banyak digunakan adalah “sudo gedit /etc/tralala”, kita tidak ingin si pembelajar Linux malah mengacak-ngacak file konfigurasi hanya gara-gara bingung dengan tombol-tombol di vi editor bukan? Inilah mengapa gue kekeuh mengajarkan penggunaan fasilitas editor midnight commander (mc -e) sebagai pengganti vi ke beberapa rekan pemula (seperti halnya dulu gue diajarin hal yang sama oleh my former office mate suhu aceng.. eh anton hehehe) karena lebih mudah, dan kalau memang sedang bekerja di lingkungan desktop yah yang digunakan adalah gedit.
Dibilang ngga hardcore juga ya ngga apa-apa, seperti
kutipan menarik dari member Ubuntu forum: “Try to educate people, not to impress them with magical commands.”
About this entry
Sections: Chickenbuntu, Cyber Chicken,
Sorry, comments are closed for this article.
